PEMANFAATAN
KOMODITI KEHUTANAN
BURUNG PUYUH (Coturnix
coturnix japonica)
Dosen PenanggungJawab:
Dr. Agus Purwoko, S,Hut, M.Si
Dr. Agus Purwoko, S,Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Steven Osvaldo Tarigan
Steven Osvaldo Tarigan
171201202
Budidaya
Hutan 5
PROGAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Penilaian Hutan ini dengan baik dan
tepat waktu. Paper
ini berjudul “Pemanfaatan
Komoditi
Burung Puyuh (Coturnix
coturnix japonica)". Penulisan paper ini
bertujuan
untuk
memberikan
sumbangan
pemikiran
dan
ilmu
mengenai
manfaat
ekonomi
sumberdaya
hutan yang terdapat
pada
burung puyuh .
Penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen
pembimbing
matakuliah
Ekonomi
Sumberdaya
Hutan
Bapak Dr. Agus
Purwoko, S.Hut, M.Si
atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga paper ini dapat bermanfaat.
Medan, Oktober 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...........................................................................................i
DAFTAR
ISI..........................................................................................................ii
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang .............................................................................................. ..1
1.2
RumusanMasalah............................................................................................ ..2
1.3
Tujuan ............................................................................................................ ..2
BAB
II. PEMBAHASAN
2.1 Kandungan
Gizi Telur Burung Puyuh................................................. ..3
2.2 Manfaat Burung
Puyuh....................................................................... ..3
2.3 Sejarah Burung Puyuh......................................................................... ..6
2.4 Masalah
Yang Di Hadapi Memelihara Burung Puyuh........................ ..7
BAB III. PENUTUP
3.1
Kesimpulan...................................................................................................... ..9
3.2
Saran.............................................................................................................. …9
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PEBDAHULUAN
PEBDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Puyuh
(Coturnix coturnix japonica) merupakan salah satu komoditas unggas yang
mempunyai peran dan prospek yang cukup cerah sebagai penghasil telur. Puyuh
juga memberi keuntungan dari daging sebagai salah satu alternatif yang
mendukung ketersediaan protein hewani dengan harga murah dan mudah didapat, di
samping itu bulu dan bahkan kotoran puyuh dapat dimanfaatkan.
Puyuh
termasuk unggas yang mempunyai keunggulan sebagai hewan ternak. Nugroho dan
Mayun (1986) menyatakan bahwa beberapa keunggulan puyuh diantaranya ialah : (1)
pada usia 42 hari puyuh betina sudah dapat menghasilkan telur, (2) dalam satu
tahun puyuh dapat menghasilkan 250 hingga 300 butir telur dengan berat
rata-rata 10 gram/butir, (3) penelitian puyuh tidak memerlukan lahan yang luas,
(4) bersifat lebih adaptif pada berbagai kondisi lingkungan (penyakit dan
suhu), (5) telur dan daging puyuh memiliki nilai gizi yang tinggi, (6) bersifat
lebih toleran pada pakan dengan serat kasar tinggi dibandingkan dengan ayam
ras.
Faktor
yang terpenting dalam pemeliharaan puyuh adalah pakan, sebab 80% biaya yang
dikeluarkan peternak digunakan untuk pembelian pakan. Zat-zat gizi yang
dibutuhkan harus terdapat dalam pakan, kekurangan salah satu zat gizi yang
diperlukan akan memberikan dampak buruk.
Peningkatan
potensi produksi burung puyuh memerlukan manajemen yang lebih baik terutama
pakan berprotein tinggi. Sayangnya bahan pakan sumber protein merupakan bahan
pakan yang paling mahal dibandingkan dengan yang lain sehingga menyebabkan
biaya pakan juga tinggi.
Salah
satu cara untuk menekan biaya pakan adalah dengan menggunakan bahan pakan non-
konvensional diantaranya limbah. Menurut Salahudin et al. (1994), daya tetas
puyuh (Coturnix coturnix japonica) yaitu 75,66% sehingga limbah yang dihasilkan
oleh usaha penetasan puyuh sangat banyak dan akan menimbulkan masalah
lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Limbah penetasan burung puyuh yang
telah dikeringkan mengandung 36,24% protein kasar, 0,92% serat kasar, 10,73%
kalsium, 0,69% fosfor serta asam amino esensial dan non-esensial. Penggunaan
limbah penetasan dalam pakan sebanyak 8% dapat meningkatkan protein dan kalsium
dalam pakan.
Klasifikasi Burung Puyuh
Kingdom :
Anomalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Aves
Ordo :
Galliformes
Famili :
Phasianidea
1.2
Rumusan Masalah
Berdasrakan latar
belakang diatas, beberapa masalah yang harus dibahas dalam makalah ini ialah
sebagai berikut :
1. Apa kandungan gizi pada telur burung
puyuh?
2. Apa saja manfaat memakan burung puyuh ?
3. Bagaimana sejarah burung puyuh?
4. Masalah
apa yang dihadapi para peternak burung puyuh ?
1.3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah singkat dari peternakan
burung puyuh.
2. Memberikan pengetahuan pada masyarakat serta pembaca
tentang seberapa besar
potensi bisnis dari peternakan burung puyuh.
3.
Disamping itu pula makah ini dibuat untuk memenuhi tugas matau kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan.
BAB
II
ISI
ISI
2.1
Kandungan Gizi Telur Puyuh
Ukuran
burung puyuh yang kecil tidak menutup kemungkinan dari banyaknya nutrisi yang
terkandung di dalamnya. Secara umum, daging burung puyuh memiliki berbagai
kandungan seperti protein, fosfor, lemak, kalsium, zat besi, seng, vitamin A
dan juga vitamin B. Sedangkan telur burung puyuh juga memiliki kandungan
protein yang tinggi serta terdapat kandungan kolin di dalamnya yang baik untuk
otak.
2.2 Manfaat Burung
Puyuh
Dari kandungan gizi yang terdapat di
dalam daging maupun telur burung puyuh, secara umum burung puyuh memiliki
manfaat yang sama untuk kesehatan. Beberapa manfaat daging dan telur burung
puyuh tersebut diantaranya yakni:
1. Menjaga
Kesehatan Mata
Kuning telur tidak hanya memiliki kandungan protein, akan
tetapi kuning telur puyuh memiliki kandungan lutein dan zeaksantin yang dapat
menjaga kesehatan retina mata. Kedua kandungan tersebut melindungi mata dari
mengatur sinar biru yang masuk kedalam mata. Karena sinar biru yang masuk
kemata tanpa sebelumnya di filter terlebih dahulu dapat menimbulkan dampak yang
buruk untuk kesehatan mata.
Selain lutein dan zeaksantin, telur
dan daging burung puyuh juga memiliki kandungan vitamin A. Meskipun kandungan
vitamin A dalam burung piyuh tidak sebanyak yang dimiliki oleh wortel, namun
tetap memiliki manfaat dan berpengaruh untuk menjaga kesehatan mata.
2. Menjaga Kesehatan Kulit
Tidak hanya vitamin A
dan B saja yang terkandung dalam burung puyuh, namun juga kandungan vitamin E.
Sama halnya vitamin E dalam kandungan buah dan sayur, kandungan vitamin E pada
daging burung puyuh dapat mencegah terjadinya penuaan dini. Vitamin E pada daging
telur puyuh juga bermanfaat utuk proses regenerasi kulit yang berlangsung
setiap saatnya.
3. Menguatkan Tulang
Daging burung puyuh
memiliki kandungan fosfor dan kalsium di dalamnya. Kedua zat ini bermanfaat
untuk menjaga tulang agar tidak keropos dan terhindar dari masalah tulang
seperti osteoporosis yang disebabkan karena kekurangan kalsium dan
fosfor.
4. Mengatasi Gangguan
Sistem Pernapasan
Mengkonsumsi daging
burung puyuh dapat mengatasi masalah pernapasan yang dialami, seperti fungsi
dari daging kelelawar dan daging tupai. Beberapa masalah pernapasan yang dapat
diatasi dengan mengkonsumsi daging burung puyuh diantaranya yakni asma,
tuberculosis, dan vegetative vascular dystrophy.
5. Memperbaiki
Jaringan Tubuh
Mengkonsumsi daging
dan telur puyuh juga dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi pada beberapa
jaringan tubuh. Protein yang terkandung dalam daging dan telur puyuh membantu
pembentukan beberapa jaringan dan sel yang ada pada kuku, kulit, rambut dan
membantu meningkatkan produksi hormon dan enzim yang ada di dalam tubuh.
6. Meningkatkan
Kekebalan Tubuh
Daging burung puyuh
yang dikonsumsi secara rutin, dapat meningkatkan sistem imunitas dalam tubuh.
Peningkatan sistem imun ini berfungsi untuk mencegah tubuh agar tidak mudah
terserang penyakit. Selain itu, sistem imun yang baik dapat membasmi bakteri
dan parasit yang masuk di dalam tubuh.
7. Menjaga Kesehatan
Jantung
Kandungan protein
pada daging dan telur burung puyuh dapat membantu meneyimbangkan kolesterol
buruk yang masuk dalam tubuh. Oleh karena itu, mengkonsumsi daging dan telur
burung puyuh baik untuk menjaga kesehatan jantung.
8. Memberikan Nutrisi
Pada Otak
Telur burung puyuh
memiliki kandungan kolin yang berperan untuk perkembangan fungsi otak. Kolin
dalam telur burung puyuh juga membantu kinerja syaraf yang ada di otak untuk
meningkatkan daya ingat. Dengan mengkonsumsi telur burung puyuh, daya ingat
akan lebih baik dan tidak mudah lupa.
9. Mengatasi Anemia
Zat besi yang
terkandung di dalam burung puyuh berfungsi untuk mengatasi anemia atau
kekurangan darah. Zat besi dapat membantu produksi hemoglobin serta sel darah
merah yang dapat menagatasi kekurangan darah dalam tubuh.
10. Mencukupi
Kebutuhan Energi
Burung puyuh juga
memiliki kandungan vitamin B2 yang mampu mengubah karbohidrat menjadi gula.
Seperti yang telah diketahui bahwa gula sebagai bahan energi yang diperlukan
oleh tubuh.
11. Mengatasi Masalah
Pada Sistem Pencernaan
Pencernaan memang salah satu organ yang sangat penting karena tempat
penyerapan sari makanan untuk diikat darah dan dibawa keseluruh tubuh. Ketika
sistem pencernaan terganggu, dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan
lainnya karena proses penyerapan sari makanan yang ada pada usus terganggu.
Gangguan sistem pencernaan bisa disebabkan karena bakteri di dalamnya. Gangguan
lain disebabkan karena adanya bisul pada usus, gastritis maupun bisul perut.
Beberapa masalah tersbeut dapat diatasi dengan mengkonsumsi daging burung
puyuh.
2.3 Sejarah Burung Puyuh
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh
relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak
(Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung
(liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus
dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan
diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang
ternak yang ada di Indonesia.
2.4 Masalah
Yang Di Hadapi Memelihara Burung Puyuh
1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab:
bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul
pearadangan pada usus.
Gejala:
puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan
mengandung asam urat.
Pengendalian:
memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang
sehat dari yang telah terinfeksi.
2.Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala:
puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata
ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik
adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:menjaga
kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; dengan Tetra Chloine
Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam
air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
3. Cacar Unggas (Fowl
Pox)
Penyebab:
Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala:
imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki,
mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian:
vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
4. Quail Bronchitis
Penyebab:
Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala:
puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi,
mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan
leher agak terpuntir.
Pengendalian:
pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
5. Aspergillosis
Penyebab:
cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala:
Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai
keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian:
memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
6. Cacingan
Penyebab:
sanitasi yang buruk.
Gejala:
puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian:
menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Puyuh (Coturnix coturnix japonica) merupakan salah satu komoditas unggas yang
mempunyai peran dan prospek yang cukup cerah sebagai penghasil telur. Puyuh
juga memberi keuntungan dari daging sebagai salah satu alternatif yang
mendukung ketersediaan protein hewani dengan harga murah dan mudah didapat, di
samping itu bulu dan bahkan kotoran puyuh dapat dimanfaatkan.
2.
Faktor yang terpenting dalam pemeliharaan puyuh adalah pakan, sebab 80% biaya
yang dikeluarkan peternak digunakan untuk pembelian pakan. Zat-zat gizi yang
dibutuhkan harus terdapat dalam pakan, kekurangan salah satu zat gizi yang
diperlukan akan memberikan dampak buruk.
3.
Salah satu cara untuk menekan
biaya pakan adalah dengan menggunakan bahan pakan non- konvensional diantaranya
limbah. Menurut Salahudin et al. (1994), daya tetas puyuh (Coturnix coturnix
japonica) yaitu 75,66% sehingga limbah yang dihasilkan oleh usaha penetasan
puyuh sangat banyak dan akan menimbulkan masalah lingkungan jika tidak
ditangani dengan baik. Limbah penetasan burung puyuh yang telah dikeringkan
mengandung 36,24% protein kasar, 0,92% serat kasar, 10,73% kalsium, 0,69%
fosfor serta asam amino esensial dan non-esensial. Penggunaan limbah penetasan
dalam pakan sebanyak 8% dapat meningkatkan protein dan kalsium dalam pakan.
SARAN
Peningkatan
potensi produksi burung puyuh memerlukan manajemen yang lebih baik terutama
pakan berprotein tinggi. Sayangnya bahan pakan sumber protein merupakan bahan
pakan yang paling mahal dibandingkan dengan yang lain sehingga menyebabkan
biaya pakan juga tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Djulardi,
A., Helmi, M., Suslina, A.L. 2006. Nutrisi Aneka Ternak Dan Satwa Harapan.
Andalas University Press. Padang.
Gomez,
K. A. 2005. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian , edisi kedua, UI
Press, Jakarta
Hidayat,
A. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
Purwanti,
2008. Kajian Efektifitas Pemberian Kunyit, Bawang Putih dan Mineral Zink
terhadap Performa, Kadar Lemak, Kolesterol dan Status Kesehatan Broiler.
Thesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Suprijatna,
E., Umiyati, A dan Ruhyat, K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Good job 👍
ReplyDeletesangat membantu bro
ReplyDeleteKeren. Sangat membangun, jadi makin paham.
ReplyDeleteDan makin lebih baik kedepannya. Semangat terus dalam menjaga dan melestarikan hutan indonesia.
Sukses ������