Makalah
Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, April
2019
PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN
Orang Utan Sumatera ( Pongo Obeli )
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut, M.Si
Oleh :
STEVEN O TARIGAN
171201202
HUT 4C

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga Makalah Ekonomi
Sumberdaya Hutan ini dapat diselesaikan. Judul dalam Makalah ini adalah
“Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Orang Utan Sumatera ( Pongo Obeli )”. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu mengenai
manfaat ekonomi sumberdaya hutan yang terdapat pada Orang Utan Sumatera ( Pongo
Obeli )
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan , Bapak Dr. Agus
Purwoko, S.Hut, M.Si atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang
konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat.
Medan, April 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Orangutan Sumatera atau Pongo abelii merupakan satu diantara 11 hewan
mamalia paling langka di Indonesia. Populasi orangutan sumatera diperkirakan
hanya sekitar 6.500 ekor (Dephut, 2007) saja. Populasinya ini jauh lebih
sedikit dibanding saudaranya, orangutan kalimantan.
Orangutan
Sumatera adalah hewan endemik pulau Sumatera. Spesies kera besar seperti halnya
gorila dan simpanse ini hanya bisa ditemukan di hutan Sumatera saja dan
merupakan spesies primata besar paling langka di dunia.
Ciri-ciri
dan Diskripsi Orangutan Sumatera. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) hampir mirip dengan orangutan kalimantan
(Pongo pygmaeus) namun memiliki ukuran tubuh yang lebih
kecil. Tinggi tubuh orangutan sumatera sekitar 1,25-1,5 meter dengan berat
tubuh berkisar 30-50 kg (betina) dan 50-90 kg (jantan).
Orangutan Sumatera
(Pongo abelii)
Ciri
lain orangutan sumatera adalah postur tubuh yang besar, lengan yang panjang dan
kuat, kaki pendek, dan tidak memiliki ekor. Pada tubuhnya ditumbuhi bulu
(rambut) berwarna merah kecoklatan. Orangutan sumatera merupakan binatang
omnivora walaupun lebih menyukai tumbuhan. Makanannya bisa berupa buah-buahan, dedaunan,
kulit pohon, bunga, telur burung, serangga, dan vertebrata kecil lainnya.
Orangutan
jantan dewasa lebih sering menyendiri. Kelompok-kelompok kecil terdiri hanya
2-3 orangutan. Hewan endemik sumatera
ini mempunyai daya jelajah sekitar 2-10 km. Anak orangutan akan bersama
BAB II
ISI
Yang membedakan dengan orangutan kalimantan, selain ukuran tubuh
yang relatif lebih kecil, orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan
memiliki kantong pipi yang panjang.
Daerah
Persebaran, Populasi, dan Konservasi. Sebagai hewan endemik
sumatera, Orangutan sumatera hanya bisa dijumpai di pulau Sumatera. Beberapa
kawasan yang menjadi habitat primata besar ini antara lain di Sumatera bagian
utara (Aceh dan Sumatera Utara) seperti di Taman Nasional Gunung
Leuser dan Suaka Margasatwa Bukit Lawang. Beberapa tahun terakhir telah
dilakukan reintroduksi orangutan sumatera ke kawasan Taman Nasional Bukit Tiga
Puluh (Jambi dan Riau).
Populasi
orangutan sumatera (Pongo abelii) semakin hari semakin
menurun. Menurut data IUCN Redlist (2004) populasi mamalia ini hanya 7.300 ekor
saja. Dan menurut data Departemen Kehutanan dalam Rencana Aksi dan Strategi
Konservasi Orangutan (2007) populasinya diperkirakan tinggal 6.500 ekor.
Padahal menurut survei tahun 1994 populasi primata ini masih 12.000 ekor.
Makin
langka dan berkurangnya populasi Orangutan Sumatera diakibatkan oleh kerusakan
hutan sebagai habitat Orangutan Sumatera. Hutan tropis sumatera yang ditetapkan
UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia mengalami
degradasi akibat konversi perkebunan sawit, pertambangan, pembukaan jalan,
legal maupun ilegal loging, pemukiman dan kebakaran hutan.
Ancaman
juga terjadi akibat perburuan liar dan perdagangan bebas. Menurut WWF, pada
tahun 1985-1990 saja sekitar 1000-an lebih orangutan sumatera telah dijual ke
Taiwan.
Lantaran
populasi yang terus menurun dengan cepat tersebut, IUCN Redlist memasukkan
orangutan sumatera dalam status konservasi Critically Endangered (Kritis) sejak tahun 2000.
Dengan status ini orangutan sumatera menjadi salah satu dari 11 mamalia paling
langka di Indonesia.
Orangutan
sumatera juga dimasukkan dalam daftar Apendiks I oleh CITES yang berarti tidak
boleh diperdagangkan dalam segala bentuk perdagangan internasional. Sedang di
Indonesia sendiri, hewan endemik Sumatera ini telah dilindungi
berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7
Tahun 1999.
Jika
ancaman perburuan liar dan luas hutan Sumatera
yang terus dibiarkan menciut, tidak menutup kemungkinan orangutan sumatera (Pongo abelii) akan menjadi primata besar pertama yang
punah di dunia. Dan ini pastinya akan menjadi rekor Indonesia yang
menyakitkan kita semua.
Klasifikasi
ilmiah. Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo:
Primates; Famili: Hominidae; Upafamili: Ponginae; Genus: Pongo; Spesies: Pongo abelii.
DAFTAR PUSTAKA
Sumiadi, A., 2008. Serah
terima Yayasan Mitra Rhino, Yayasan Suaka Rhino Sumatera dan Program Konservasi
Badak Indonesia kepada Yayasan Badak Indonesia
Wikipedia, 2013. Badak
Sumatera. Laman web http://id.wikipedia.org/wiki/Badak
Sumatera. Diakses pada tanggal 11 April 2019

Comments
Post a Comment